Minggu, 20 Januari 2008

antena omni

I. Omni Directional Antenna
a. Rubber Ducky Antenna

Banyak ditemukan diperalatan 2.4GHz 802.11 wireless network, seperti access point dan router wireless.
Penambahan gain rata-rata untuk antenna seperti ini sekitar 2-2.2dbi (www.martybugs.net)
Salah satu cara untuk menambahkan kekuatan daya dari wireless omni directional antenna / rubber ducky antenna ini adalah dengan menambahkan semacam parabola tepat di belakang antena, sehingga antena yang tadinya menyebar luas dapat diarahkan ke dalam salah satu area tertentu. Gain yang didapat sekitar 10 to 12 dB.
b. 360 Degree Omni

Gain yang didapat adalah 5-6 dbi.
2. Directional Antenna
a. Directional Yagi

Gain yang didapat +- 15 dbi.
b. Directional Sector

Banyak digunakan di menara-menara telekomunikasi. Lebar penyebaran berkisar 90-180 derajat. Antena ini baik digunakan untuk mengjangkau 360 derajat area, namun tidak mengingingkan semuanya mengarah ke satu antena.
c. Directional Patch

Gain yang didapat sekitar 18dbi.
Penyebaran jangkauan lebih sempit daripada antena yagi.
Mudah disembunyikan
d. Directional Parabolic

Dapat menjangkau daerah yang jauh.
Dapat mencapai 16 Km dengan gain 22 dbi (www.seattlewireless.com).
e. Directional Dish

Gain yang didapat 16-24 dbi.
digunakan di kantor saya . Dengan menggunakan standard 802.11b 11Mbps, antena Directional Dish 18dbi, bridge PoE jarak dibawah 500 meter dan LoS. Speed yang didapat berkisar 2-3 Mbps bisa jadi referensi bagi kawan-kawan sekalian.
Antena-antena diatas merupakan antena standard yang sering digunakan banyak orang, tidak tertutup kemungkinan masih banyak jenis-jenis antena yang ada dengan melakukan penggabungan ataupun modifikasi dari bentuk-bentuk antena diatas.
Pengertian dbi, jarak jangkauan, dan luas jangkauan dapat dicari di Om Google, karena saya sendiri masih memahaminya. (bagi yang mau berbagi ilmu ke saya boleh :p).
Gambar-gambar diatas didapat dari website www.seattlewireless.net dan www.martybugs.net segala hak cipta ada di tangan mereka.

6 Responses to “Tipe-tipe antenna wireless yang perlu diketahui! (part 1)”
1. Terima kasih informasinya…. Pak, informasinya.
Mulyadi said this on August 27th, 2007 at 7:45 pm
2. yup. ngak pp sekalian untuk tugas saya, artikel ini juga akan berlanjut lagi kok
nalpha said this on August 28th, 2007 at 2:20 pm
3. gue tambahin dikit ya mar:
Dalam sistem wireless, antena digunakan untuk meng-konversi gelombang listrik menjadi gelombang elektromagnit. Besar enerji antena dapat memperbesar sinyal terima dan kirim, yang disebut sebagai Antenna Gain yang diukur dalam :
dBi : relatif terhadap isotropic radiator
dBd: relatif terhadap dipole radiator
dimana 0 dBd = 2,15 dBi
RADIATED POWER
Pengaturan yang dilakukan oleh FCC harus memenuhi ketentuan dari besarnya daya yang keluar dari antena. Daya ini diukur berdasarkan dua cara :
1.Effective Isotropic Radiated Power (EIRP)
diukur dalam dBm = daya di input antena [dBm] + relatif antena gain [dBi]
2.Effective Radiated Power (ERP) diukur dalam dBm = daya di input antena [dBm] + relatif antena gain [dBd]
KEHILANGAN DAYA
Pada sistem wireless, ada banyak faktor yang menyebabkan kehilangan kekuatan sinyal, seperti kabel, konektor, penangkal petir dan lainnya yang akan menyebabkan turunnya unjuk kerja dari radio jika dipasang sembarangan
Pada radio yang daya-nya rendah seperti 802.11b, setiap dB adalah sangat berarti, dan harus diingat “3 dB Rule”.
Setiap kenaikan atau kehilangan 3 dB, kita akan mendapatkan dua kali lipat daya atau kehilangan setengahnya .
-3 dB = 1/2 daya
-6 dB = 1/4 daya
+3 dB = 2x daya
+6 dB = 4x daya
Sumber yang menyebabkan kehilangan daya dalam sistem wireless : free space, kabel, konektor, jumper, hal-hal yang tidak terlihat.
3dB Rule bisa diterapkan secara prak-tis dengan bantuan antena
Access Point dengan standar 802.11b mempunyai penguatan 13dB untuk jarak 300 meter, maka kalau kita menggunakan antena 15dB (total 28dB) rumusannya menjadi :
13 + 3 dB – jaraknya menjadi 600 meter
16 + 3 dB – jaraknya menjadi 1,2 KM
19 + 3 dB – jaraknya menjadi 2,4 KM
21 + 3 dB – jaraknya menjadi 4,8 KM
24 + 3 dB – jaraknya menjadi 9,6 KM
1dB dianggap loss ….
MENGENAI KEKUATAN SINYAL :
Signal Propagation
Sinyal yang meninggalkan antena, maka akan merambat dan menghilang di udara. Pemilihan antena akan menentukan bagaimana jenis rambatan yang akan terjadi.
Pada 2,4 GHz sangat penting jika kita memasang kedua perangkat pada jalur yang bebas dari halangan. Jika rambatan sinyal terganggu, maka penurunan kwalitas sinyal akan terjadi dan mengganggu komunikasinya.
Pohon, gedung, tanki air, dan tower adalah perangkat yang sering mengganggu rambatan sinyal
Kehilangan daya terbesar dalam sistem wireless adalah Free Space Propagation Loss. Free Space Loss dihitung dengan rumus :
FSL(dB) = 32.45 + 20 Log10 F(MHz) + 20 Log10 D(km)
Jadi Free Space Loss pada jarak 1 km yang menggunakan frekwensi 2.4 GHz :
FSL(dB) = 32.45 + 20 Log10 (2400) + 20 Log10 (1)
= 32.45 + 67.6 + 0
= 100.05 dB
MENGENAI ANTENA :
Pola Radiasi Antena
Parameter umum :
main lobe (boresight)
half-power beamwidth (HPBW)
front-back ratio (F/B)
pattern nulls
Biasanya, diukur pada dua keadaan :
Vector electric field yang mengacu pada E-field
Vector magnetic field yang mengacu pada H-field
POLARISASI
Polarisasi antena relatif terhadap E-field dari antena.
Jika E-field-nya horisontal, maka antenanya Horizontally Polarized.
Jika E-field vertikal, maka antenanya Vertically Polarized.
Polarisasi apapun yang dipilih, antena pada satu jaringan RF harus memiliki polarisasi yang sama
Polarisasi dapat dimanfaatkan untuk :
- Meningkatkan isolasi dari sinyal yang tidak diinginkan (Cross Polarization Discrimination (x-pol) biasanya sekitar 25 dB)
- Mengurangi interferensi
- Membantu menentukan satu daerah pelayanan tertentu
IMPEDENSI ANTENA
Impedansi yang cocok akan menghasilkan pemindahan daya yang maksimum. Antena juga berfungsi sebagai matching load-nya transmitter (50 Ohms)
Voltage Standing Wave Ratio (VSWR) adalah satuan yang menunjukan sampai dimana antena sesuai (match) dengan jalur transmisi yang dikirimnya.
RETURN LOSS
Return Loss berhubungan dengan VSWR, yaitu mengukur daya dari sinyal yang dipantulkan oleh antena dengan daya yang dikirim ke antena.
Semakin besar nilainya (dalam satuan dB), semakin baik. Angka 13.9dB sama dengan VSWR 1,5:1. Return Loss 20dB adalah nilai yang cukup bagus, dan setara dengan VSWR of 1,2:1

Perhitungan Untuk Membuat Antenna Sendiri
Rumus yang digunakan oleh Jason Hecker (jason@air.net.au) banyak di ambil dari Bab
19 dari ARRL Antenna Handbook (http://www.arrl.org) di mana kita akan melihat cukup
banyak contoh disain antenna helical, termasuk cara mengukur kinerjanya.
Rumus antenna helical di ambil dari halaman 19-23 ARRL Antenna Handbook tertera di
bawah ini.
C
circumference of winding
S
axial length of one turn
G = 0.8 to 1.1
diameter of ground plane / reflector
C
circumference is pi times the diameter
Diameter dari lilitan biasanya tetap, dengan pipa pralon 40 mm maka diameter lilitan
adalah 42 mm. Jika frekuensi yang kita gunakan adalah (2.425GHz) maka panjang
gelombang = 0.123711 meter.
C
= 0.13195m
= 1.066
Jika kita ukur, ternyata S
30 C
out of range. Tapi tampaknya bukan masalah yang fatal.
________________________________________
Page 21
S
Diameter ground plane G = 1.05 = 0.130m
Gain dari antenna dalam dBi di definisikan sebagai:
Gain = 11.8 + 10log10(C
* n * S
dimana n adalah jumlah lilitan.
Gain = 11.8 + 10log10(1.066 * 1.066 * 13 *
0.31830)
= 18.5dBi
Pada tabel di bawah terlihat dengan jelas bahwa
gain
antenna
akan
bertambah
dengan
menambahkan jumlah lilitan. Kira-kira kenaikan
3dB akan di peroleh dengan men-dobel jumlah lilitan. Kira-kira 13 lilitan pas untuk
panjang pipa 0.55 meter & merupakan kompromi yang baik antara panjang vs. gain.
Pada card 801.11 yang banyak dipasaran umumnya kita bisa menset frekuensi yang
digunakan sebanyak 11 channel (FCC US). Oleh karena itu anda mungkin ingin
mengubah C
untuk frekuensi tempat kita bekerja.
Hal lain yang perlu diperhatikan dalam antenna adalah lebar beam. Lebar beam
biasanya di hitung menggunakan pada saat daya 50% (3 dB) lebih rendah daripada
daya di pusatnya. Rumus / perhitungannya adalah:
Half Power Beam Width = 52 / (C
= 52 / (1.066 * sqrt(13 * 0.31830))
= 23.98 derajat

Jumat, 18 Januari 2008

access point

Konfigurasi LINKSYS









Pendahuluan

Dalam dunia informasi kita mengenal internet sebagai sumber informasi yang tidak terbatas.Terdapat macam – macam cara untuk tersambung dengan internet,salah satunya dengan melewati koneksi wireless ( gelombang radio ).pada makalah yang kami susun ini kami akan membahas tentang bagaimana cara mengkonfigurasikan radio LINKSYS.Untuk selanjutnya kita baca langkah – langkahnya.

Instalasi dan Pengaturan IP Radio

• Pertama-tama kita masukkan CD driver dari radio LINKSYS dalam computer yang kita gunakan.Apabila kita ingin mensetting IP pada radio kita harus masuk dalam instalasinya.Langkah kedua kita klik click here to start pada gambar :

















Tampilan gambar setup pada LINKSYS








• Setelah di klik maka akan muncul tampilan pengarahan untuk memasang bahwa kabel UTP yang ada telah tersambung kedalam radio yang akan kita atur IPnya,lalu pilih next untuk masuk ke instalasi berikutnya :

















Tampilan gambar setup pada LINKSYS


• Langkah selanjutnya adalah keterangan tentang pemasangan kabel UTP kedalam PC yang kita gunakan untuk mengkonfigurasi IP pada radio LINKSYS,untuk masuk ke instalasi selanjutnya klik next pada pilihan bawah instalasi,tampilannya adalah :

















Tampilan gambar setup pada LINKSYS







• Pada tampilan selanjutnya kita akan di beritahu untuk memasang kabel power radio pada stop kontak yang ada.Dalam hal ini,yang perlu diperhatikan adalah cara pemasangan,jangan sampai jack pada radio dan stop kontak kendor.Karena bila kendor radio tidak akan menyala.Selanjutnya klik next untuk melanjutkan instalasi.Tampilannya adalah sebagai berikut :

















Tampilan gambar setup pada LINKSYS


• Tampilan selanjutnya akan membahas tentang lampu LED pada radio,pastikan ke tiga lampu yang ada pada radio menyala.Apabila ada salah satu lampu yang tidak menyala,maka ada konfigurasi yang salah pada pemasangan radio dalam PC kita.Maka dari itu kita pastikan semua terpasang dengan baik.gambarnya adalah sebagai berikut :

















Tampilan gambar setup pada LINKSYS



• Lalu kita tunggu proses mengconnectkan antara radio dengan PC seperti pada gambar :





Tampilan gambar setup pada LINKSYS

• Setelah proses itu selesai,maka masuk kedalam proses selanjutnya.Yaitu tentang pemilihan access point pada radio.Apabila ingin mengkonfigurasi pilih YES ,tapi bila tidak ingin mengubah default radio, pilih NO.dan apabila ingin keluar dari instalasi pengaturan IP,pilih EXIT.Tapi pada kali ini kita akan mencoba memilih mengkonfigurasi ulang IP radio.caranya dengan memilih YES.Seperti pada gambar :

















Tampilan gambar setup pada LINKSYS

• Bila kita pilih YES,maka akan muncul tampilan untuk mengisi password radio.Untuk mengisinya biasanya bila baru saja di install passwordnya adalah admin lalu klik enter.Seperti pada gambar berikut :














Tampilan gambar setup pada LINKSYS
• Pada langkah selanjutnya kita dipersilahkan untuk mengatur IP pada radio LINKSYS.seperti pada gambar,dalam hal ini kita dapat mengatur nama radio,password radio,network ( jaringan ) dibuat DHCP atau Static,IP radio,Subnet Mask radio,dan default gateway.Untuk keterangan DHCP dan Static adalah sebagai berikut :

DHCP : bahwa radio dapat dijadikan sebagai router.
Static IP : bahwa radio dalam posisi AP ( Access Point ).
Setelah dirasa sudah mengisi semua yang diperlukan kita klik next.Seperti Gambar konfigurasinya adalah sebagai berikut :

















Tampilan gambar setup pada LINKSYS

• Kita telah sampai pada pertengahan instalasi,pada saat ini kita diharuskan melihat lampu LED pada cisco system yang terdapat pada radio,apakah sudah menyala apa belum.Selain itu kita juga harus memilih mengkonfigurasi secara manual atau langsung.Pada contoh kali ini kita akan mengkonfigurasi secara manual,dengan memilih enter wireless setting manually.Tampilannya adalah sebagai berikut :

















Tampilan gambar setup pada LINKSYS
• Dalam bagian ini kita diwajibkan untuk mengisi SSID,Channel,Network Mode.Pada hal ini sangat penting kita ketahui bahwa channel yang kita gunakan tidak boleh sama dengan channel radio yang lain,karena dapat terjadi konflik.Dalam pemilihan channel ada 13 channel yang dapat digunakan.Sedangkan pada pemilihan Network Mode,kita memilih G-only.Karena pada type radio ini diharuskan memilih mode ini.setelah selesai klik next.Seperti pada gambar :


















Tampilan gambar setup pada LINKSYS

• Bagian ini adalah salah satu yang paling penting dalam instalasi dan pemberian IP pada radio.Yaitu pemberian pengamanan bagi radio,atau security.Dalam hal ini kita ditawarkan 4 macam pengamanan,yang pertama tanpa pengamanan ( disable ),yang kedua WEP (Wiled Equivalent Privacy ),WPA-Personal ( Wi-fi protected access atau WPA-PSK),dan WPA-Enterprise ( Wi-fi protected access atau WPA RADIUS ).Penjelasannya adalah sebagai berikut :

Disable : Yaitu tanpa pengaman,semua gelombang dapat masuk ke jaringan radio.
WEP : Yaitu radio dapat mengatur data yang diminta bisa dikirim atau tidak oleh user yang mengaksesnya.
WPA-Personal : Nama lainnya adalah WPA-PSK ( wi-fi protected access – The Pre Shared Key ) adalah pengamanan radio sebelum membagi data ke client yang meminta atau yang mengakses..
WPA-Enterprise : Ini adalah system pengamanan radio yang tidak semua gelombang bisa mengakses data melewati gelombang channelnya.Dengan kata lain,server radio ini bisa memberi izin tentang data yang akan diberikan.gelombang radio ini hanya dapat di detect saja,akan tetapi belum tentu dapat mengakses data dari servernya.





Seperti pada gambar,tampak konfigurasi pengaman radio ( security ) :


















Tampilan gambar setup pada LINKSYS


• Langkah terakhir adalah confirmasi penyimpanan konfigurasi radio,kita akan ditawarkan YES atau NO,apabila setuju menyimpan setting konfigurasi klik YES dan apabila tidak ingin menyimpan klik NO.Seperti pada gambar :


















Tampilan gambar setup pada LINKSYS








• Tunggu proses penyimpanan konfigurasi sejenak seperti pada tampilan gambar :






Tampilan gambar setup pada LINKSYS


• Pada akhir instalasi akan muncul pilihan exit atau kita dapat memilih online Registration.Apabila ingin meregistry radio online silahkan klik online Registration,dan apabila ingin langsung keluar klik exit.Seperti pada gambar :



















Tampilan gambar setup pada LINKSYS

WEB Server

WEB SERVER

Webserver Apache merupakan webserver yang paling populer digunakan di dunia dengan 64.52 % pengguna (berdasarkan survey netcraft.com september 2003), diikuti Microsoft IIS (23.54%) dan SunOne (3.48%). Hal tersebut karena sampai saat ini Apache merupakan webserver open source yang free (open source) dan handal.
Beberapa kelebihan Apache antara lain:# Free of Charge / Gratis# Cepat dan Tangguh dengan konfigurasi yang benar# Setting dan Instalasi sesuai dengan kebutuhan dengan modules dan DSO-nya# Dapat diakses (API ke berbagai scripting languange) dan digabung dengan berbagai aplikasi lain (databaseserver, ssl, ext)# Advanced setting dan configuration support# Keuggulan lainnya….cari sendiri ya :)More…Dengan berbagai keungulan tersebut maka Apache sangat bagus jika kombinasikan dengan aplikasi lainnya. Penggabungan yang paling sering adalah dengan menggabungkan Apache, PHP dan MySQL yang berjalan di server linux atau yang terkenal dengan istilah LAMP (Linux, Apache, Mysql, PHP). Eittt…. bagi pengguna windows.. jangan khawatir dulu karena Apache, PHP dan MySQL bisa diinstall di OS Windows juga. Pada pokok bahasan kali ini kita akan mencoba menginstall LAMP di OS Windows dan Linux. Asumsi distro Linux yg digunakan adalah versi Redhat atau Mandrake dan Windows yang digunakan Win 9x, 2k atau xp. Saat ini apache terdiri dari dua versi yaitu versi 1.3 dan versi 2 silakan pilih versi yg diinginkan, masing memiliki kelebihan dan kekurangan.

1. Instalasi LAMP di OS Linux

a. Instalasi dengan menggunakan RPM
Untuk instalasi menggunakan rpm biasanya secara default sudah disediakan di cd distro linux yang diinstall. Untuk instalasinya cukup dengan perintah : rpm -ivh paket_versi.rpm dan untuk upgrade dengan perintah rpm -Uvh paket_versi.rpm
Langkahnya adalah sebagai berikut:
Apache : rpm -ivh Apache-versi.rpmPHP : rpm -ivh php-versi.rpm php-mysql.rpm (rpm lain yg dibutuhkan)Mysql : rpm -ivh MySQL-versi.rpm MySQL-client-versi.rpm
Secara default php akan terinstall sebagai CGI tetapi apabila kita menginstall rpm untuk modul Apache maka php akan menjadi modul Apache. Instalasi php sebagai modul Apache dapat mempercepat eksekusi script php.
Untuk konfigurasi webserver apache dapat dilakukan di /etc/http/conf/http.conf (lokasi default ) dan php dapat dilakukan di /etc/php.ini
b. Intalasi dengan menggunakan source
Yang dibutuhkan adalah source-source berikut :
1. mysql-3.23.58.tar.gz (versi terbaru dapat diakses di http://www.mysql.com/downloads/index.html)2. apache_1.3.27.tar.gz (versi terbaru dapat diakses http://httpd.apache.org/download.cgi)3. php-4.3.1.tar.gz (versi terbaru dapat diakses http://www.php.net/downloads.php)Setiap konfigurasi yang disebutkan adalah konfigurasi minimal dan umum digunakan, untuk konfigurasi secara lengkap dapat mengetikkan ./configure –help
Install MySQL-nya dulu—————————–
unpack source nya, compile dan Install :
/usr/local > tar -xzvf mysql-3.23.58.tar.gz/usr/local > cd mysql-3.23.58//usr/local/mysql-3.23.58 > ./configure –prefix=/usr/local/mysql/usr/local/mysql-3.23.58 > make/usr/local/mysql-3.23.58 > make install/usr/local/mysql-3.23.58 >./scripts/mysql_install_db
menjalankan MySQL :
/usr/local/mysql-3.23.58 > cd /usr/local/mysql/bin/usr/local/mysql/bin > ./safe_mysqld &
untuk informasi lengkap installasinya ada pada http://www.mysql.com/doc/en/Installing.htmlUnpack dan
configure Apache————————————-
/usr/local > tar -xzvf pache_1.3.27.tar.gz/usr/local > cd apache_1.3.27//usr/local/apache_1.3.26 > ./configure –prefix=/usr/local/apacheInstall PHP————-
unpack source nya, compile dan Install :
/usr/local > tar -xzvf php-4.3.1.tar.gz/usr/local > cd php-4.3.1//usr/local/php-4.3.1 > ./configure –with-mysql=/usr/local/mysql> –with-xml> –with-apache=/usr/local/apache_1.3.27> –enable-track-vars
/usr/local/php-4.3.1 > make/usr/local/php-4.3.1 > make install/usr/local/php-4.3.1 > cp php.ini-dist /usr/local/lib/php.ini
Install Apache——————-
/usr/local > cd apache_1.3.26//usr/local/apache_1.3.26 >> ./configure> –activate-module=src/modules/php4/libphp4.a> –enable-module=php4> –prefix=/usr/local/apache
/usr/local/apache_1.3.27> make/usr/local/apache_1.3.27> make certificate TYPE=custom/usr/local/apache_1.3.27> make install
selesai .Konfigurasi Apache————————-
Edit httpd.conf yang berada di /usr/local/apache/conf/ , dan tambahkan baris berikut :
AddType application/x-tar .tgzAddType application/x-httpd-php .phpAddType application/x-httpd-php-source .phps
jalankan apache :
# /usr/local/apache/bin/apachectl start
Untuk melihat konfigurasi yang kita buat dapat membuat suatu file php. misalnya kita buat file phpinfo.php dan isinya adalah sebagai berikut:
simpan file tersebut dan letakkan di direktori web server. Untuk melihatnya kita dapat mengakses halaman http://localhost/phpinfo.php

2. Intalasi LAMP di OS Windows

Untuk instalasi di windows bisa dilakukan beberapa cara antara lain:
- Install PHP Triad yg secara langsung akan menginstall Apache, php dan mysql. Dapat diakses dari sini http://sourceforge.net/projects/phptriad
- Install paket secara terpisah dengan mengambil installer dari website sumber dan menggabungkannya yaitu dengan mengambil paket dari :
Apache : http://www.apache.orgPHP : http://www.php.netMySQL : http://www.mysql.com
Setiap paket akan dilengkapi dengan readme file yang berisi langkah2 instalasi dan manualnya. Untuk konfigurasi Apache dapat dilakukan di file httpd.conf.

Proxy Server

Tutorial Proxy Server:

Pertama-tama kita install dulu program untuk membuat Proxy Server yaitu dengan
aptitude -> / -> squid -> enter -> + -> g -> g ->
setelah program untuk membuat Proxy Server sudah terinstall semua, barulah kita mulai mengedit program tersebut yaitu dengan cara:

mcedit /etc/squid/squid.conf


acl all src 0.0.0.0/0.0.0.0

acl lab1 src 192.168.1.0/255.255.255.0

acl tidak dstdomain www.download.com

acl manager proto cache_object

acl localhost src 127.0.0.1/255.255.255.255

acl to_localhost dst 127.0.0.0/8

acl SSL_ports port 443 # https

acl SSL_ports port 563 # snews

acl SSL_ports port 873 # rsync

acl Safe_ports port 80 # http

acl Safe_ports port 21 # ftp

acl Safe_ports port 443 # https

acl Safe_ports port 70 # gopher

acl Safe_ports port 210 # wais

acl Safe_ports port 1025-65535 # unregistered ports

acl Safe_ports port 280 # http-mgmt

acl Safe_ports port 488 # gss-http

acl Safe_ports port 591 # filemaker

acl Safe_ports port 777 # multiling http

acl Safe_ports port 631 # cups

acl Safe_ports port 873 # rsync

acl Safe_ports port 901 # SWAT

acl purge method PURGE

acl CONNECT method CONNECT

serta

# INSERT YOUR OWN RULE(S) HERE TO ALLOW ACCESS FROM YOUR CLIENTS

# Example rule allowing access from your local networks. Adapt

# to list your (internal) IP networks from where browsing should

# be allowed

#acl our_networks src 192.168.1.0/24 192.168.2.0/24

#http_access allow our_networks

http_access allow localhost

http_access deny tidak

http_access allow lab1

# And finally deny all other access to this proxy

http_access deny all

# TAG: http_access2

# Allowing or Denying access based on defined access lists

#

# Identical to http_access, but runs after redirectors. If not set

# then only http_access is used.

#

#Default:

# none

# TAG: http_reply_access

# Allow replies to client requests. This is complementary to http_access.

#

# http_reply_access allow|deny [!] aclname ...

#

# NOTE: if there are no access lines present, the default is to allow

# all replies

#

# If none of the access lines cause a match the opposite of the

# last line will apply. Thus it is good practice to end the rules

# with an "allow all" or "deny all" entry.

#

#Default:

# http_reply_access allow all

#

#Recommended minimum configuration:

#

# Insert your own rules here.

#

#

# and finally allow by default

http_reply_access allow all

FTP Server

Tutorial FTP Server:

Pertama-tama kita install dulu program untuk membuat FTP Server yaitu dengan
aptitude -> / -> vsftpd -> enter -> + -> g -> g ->
setelah program untuk membuat FTP Server sudah terinstall semua, barulah kita mulai mengedit program tersebut yaitu dengan cara:

mcedit /etc/vsftpd.conf

#

# The default compiled in settings are fairly paranoid. This sample file

# loosens things up a bit, to make the ftp daemon more usable.

# Please see vsftpd.conf.5 for all compiled in defaults.

#

# READ THIS: This example file is NOT an exhaustive list of vsftpd options.

# Please read the vsftpd.conf.5 manual page to get a full idea of vsftpd's

# capabilities.

#

#

# Run standalone? vsftpd can run either from an inetd or as a standalone

# daemon started from an initscript.

listen=YES

#

# Run standalone with IPv6?

# Like the listen parameter, except vsftpd will listen on an IPv6 socket

# instead of an IPv4 one. This parameter and the listen parameter are mutually

# exclusive.

#listen_ipv6=YES

#

# Allow anonymous FTP? (Beware - allowed by default if you comment this out).

anonymous_enable=YES

#

# Uncomment this to allow local users to log in.

local_enable=YES

#

# Uncomment this to enable any form of FTP write command.

write_enable=YES

#

# Default umask for local users is 077. You may wish to change this to 022,

# if your users expect that (022 is used by most other ftpd's)

#local_umask=022

#

# Uncomment this to allow the anonymous FTP user to upload files. This only

# has an effect if the above global write enable is activated. Also, you will

# obviously need to create a directory writable by the FTP user.

anon_upload_enable=YES

#

# Uncomment this if you want the anonymous FTP user to be able to create

# new directories.

anon_mkdir_write_enable=YES

#

# Activate directory messages - messages given to remote users when they

# go into a certain directory.

dirmessage_enable=YES

#

# Activate logging of uploads/downloads.

xferlog_enable=YES

#

# Make sure PORT transfer connections originate from port 20 (ftp-data).

connect_from_port_20=YES

#

# If you want, you can arrange for uploaded anonymous files to be owned by

# a different user. Note! Using "root" for uploaded files is not

# recommended!

#chown_uploads=YES

#chown_username=whoever

#

# You may override where the log file goes if you like. The default is shown

# below.

#xferlog_file=/var/log/vsftpd.log

#

# If you want, you can have your log file in standard ftpd xferlog format

#xferlog_std_format=YES

#

# You may change the default value for timing out an idle session.

#idle_session_timeout=600

#

# You may change the default value for timing out a data connection.

#data_connection_timeout=120

#

# It is recommended that you define on your system a unique user which the

# ftp server can use as a totally isolated and unprivileged user.

#nopriv_user=ftpsecure

#

# Enable this and the server will recognise asynchronous ABOR requests. Not

# recommended for security (the code is non-trivial). Not enabling it,

# however, may confuse older FTP clients.

#async_abor_enable=YES

#

# By default the server will pretend to allow ASCII mode but in fact ignore

# the request. Turn on the below options to have the server actually do ASCII

# mangling on files when in ASCII mode.

# Beware that on some FTP servers, ASCII support allows a denial of service

# attack (DoS) via the command "SIZE /big/file" in ASCII mode. vsftpd

# predicted this attack and has always been safe, reporting the size of the

# raw file.

# ASCII mangling is a horrible feature of the protocol.

#ascii_upload_enable=YES

#ascii_download_enable=YES

#

# You may fully customise the login banner string:

#ftpd_banner=Welcome to blah FTP service.

#

# You may specify a file of disallowed anonymous e-mail addresses. Apparently

# useful for combatting certain DoS attacks.

#deny_email_enable=YES

# (default follows)

#banned_email_file=/etc/vsftpd.banned_emails

#

# You may restrict local users to their home directories. See the FAQ for

# the possible risks in this before using chroot_local_user or

# chroot_list_enable below.

#chroot_local_user=YES

#

# You may specify an explicit list of local users to chroot() to their home

# directory. If chroot_local_user is YES, then this list becomes a list of

# users to NOT chroot().

#chroot_list_enable=YES

# (default follows)

#chroot_list_file=/etc/vsftpd.chroot_list

#

# You may activate the "-R" option to the builtin ls. This is disabled by

# default to avoid remote users being able to cause excessive I/O on large

# sites. However, some broken FTP clients such as "ncftp" and "mirror" assume

# the presence of the "-R" option, so there is a strong case for enabling it.

#ls_recurse_enable=YES

#

#

# Debian customization

#

# Some of vsftpd's settings don't fit the Debian filesystem layout by

# default. These settings are more Debian-friendly.

#

# This option should be the name of a directory which is empty. Also, the

# directory should not be writable by the ftp user. This directory is used

# as a secure chroot() jail at times vsftpd does not require filesystem

# access.

secure_chroot_dir=/var/run/vsftpd

#

# This string is the name of the PAM service vsftpd will use.

pam_service_name=vsftpd

#

# This option specifies the location of the RSA certificate to use for SSL

# encrypted connections.

rsa_cert_file=/etc/ssl/certs/vsftpd.pem

Kamis, 17 Januari 2008

DHCP Server

Tutorial DHCP Server:

Pertama-tama kita install dulu program untuk membuat DHCP Server yaitu dengan
aptitude -> / -> dhcp3-server -> enter -> + -> g -> g ->
setelah program untuk membuat DHCP Server sudah terinstall semua, barulah kita mulai mengedit program tersebut yaitu dengan cara:

mcedit /etc/dhcp-3-server/dhcpd.conf
#
# Sample configuration file for ISC dhcpd for Debian
#
# $Id: dhcpd.conf,v 1.1.1.1 2002/05/21 00:07:44 peloy Exp $
#

# The ddns-updates-style parameter controls whether or not the server will
# attempt to do a DNS update when a lease is confirmed. We default to the
# behavior of the version 2 packages ('none', since DHCP v2 didn't
# have support for DDNS.)
ddns-update-style none;

# option definitions common to all supported networks...
#option domain-name "example.org";
#option domain-name-servers ns1.example.org, ns2.example.org;

#default-lease-time 600;
#max-lease-time 7200;

# If this DHCP server is the official DHCP server for the local
# network, the authoritative directive should be uncommented.
#authoritative;

# Use this to send dhcp log messages to a different log file (you also
# have to hack syslog.conf to complete the redirection).
log-facility local7;

# No service will be given on this subnet, but declaring it helps the
# DHCP server to understand the network topology.

#subnet 10.152.187.0 netmask 255.255.255.0 {
#}

# This is a very basic subnet declaration.

#subnet 10.254.239.0 netmask 255.255.255.224 {
# range 10.254.239.10 10.254.239.20;
# option routers rtr-239-0-1.example.org, rtr-239-0-2.example.org;
#}

# This declaration allows BOOTP clients to get dynamic addresses,
# which we don't really recommend.

#subnet 10.254.239.32 netmask 255.255.255.224 {
# range dynamic-bootp 10.254.239.40 10.254.239.60;
# option broadcast-address 10.254.239.31;
# option routers rtr-239-32-1.example.org;
#}

# A slightly different configuration for an internal subnet.
subnet 192.168.1.0 netmask 255.255.255.0 {
range 192.168.1.2 192.168.1.10;
option domain-name-servers 192.168.1.1;
# option domain-name "internal.example.org";
option routers 192.168.1.1;
option broadcast-address 192.168.1.255;
default-lease-time 600;
max-lease-time 7200;
}

# Hosts which require special configuration options can be listed in
# host statements. If no address is specified, the address will be
# allocated dynamically (if possible), but the host-specific information
# will still come from the host declaration.

#host passacaglia {
# hardware ethernet 0:0:c0:5d:bd:95;
# filename "vmunix.passacaglia";
# server-name "toccata.fugue.com";
#}

# Fixed IP addresses can also be specified for hosts. These addresses
# should not also be listed as being available for dynamic assignment.
# Hosts for which fixed IP addresses have been specified can boot using
# BOOTP or DHCP. Hosts for which no fixed address is specified can only
# be booted with DHCP, unless there is an address range on the subnet
# to which a BOOTP client is connected which has the dynamic-bootp flag
# set.
#host fantasia {
# hardware ethernet 08:00:07:26:c0:a5;
# fixed-address fantasia.fugue.com;
#}

# You can declare a class of clients and then do address allocation
# based on that. The example below shows a case where all clients
# in a certain class get addresses on the 10.17.224/24 subnet, and all
# other clients get addresses on the 10.0.29/24 subnet.

#class "foo" {
# match if substring (option vendor-class-identifier, 0, 4) = "SUNW";
#}

#shared-network 224-29 {
# subnet 10.17.224.0 netmask 255.255.255.0 {
# option routers rtr-224.example.org;
# }
# subnet 10.0.29.0 netmask 255.255.255.0 {
# option routers rtr-29.example.org;
# }
# pool {
# allow members of "foo";
# range 10.17.224.10 10.17.224.250;
# }
# pool {
# deny members of "foo";
# range 10.0.29.10 10.0.29.230;
# }
#}

Samba Server

Tutorial samba:

Pertama-tama kita install dulu program untuk membuat SambaServer yaitu dengan
aptitude -> / -> samba -> enter -> + -> g -> g ->
setelah program untuk membuat Samba Server sudah terinstall semua, barulah kita mulai mengedit program tersebut yaitu dengan cara:

mcedit /etc/samba/smb.conf

[global]

Workgroup = workgroup

Netbios name = linux

Security = share


[data]

Comment = file

Path = /home/data

Readonly = yes

Public = yes

Valid users = nobody

Writable = yes

Browseable = yes

Guest ok = yes